Pengertian Gereja Menurut Para Ahli
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1. Review Hasil-hasil Penelitian Terdahulu
Penelitian ini menjadi salah satu acuan refrensi dari jurnal yang terakreditasi untuk mendukung peneliti di dalam menganalisis dan mengembangkan teori yang digunakan dalam mengkaji penelitian yang dilakukan, antara lain.
Daniel Sutoyo (2014) Bahwa Gereja mula-mula merupakan prototipe gereja, bahkan mampu menjadi pola aktual gereja saat ini. Hidup di seluruh dunia, bahkan dalam konteks Indonesia, gereja tidak hanya membutuhkan pengakuan formal dari pemerintah, tetapi juga komitmen yang lebih alami dari lingkungan, tanpa intrik atau kecenderungan apa pun. Dalam hal ini mengamati dan mengusulkan gaya hidup gereja mula-mula dalam Kisah Para Rasul sebagai model yang memberikan konsep gereja yang dapat diterima dan disukai dalam masyarakat tempat gereja itu tinggal. Metode yang dipakai adalah teks eksposisi, yang diambil dari Kisah Para Rasul 2:42-47, yang menunjukkan gaya hidup gereja mula-mula sebagai model masa kini. Dari analisis teks diperoleh dua karakteristik yang menjadi model bagi gereja: mereka terus-menerus mengabdikan diri pada pengajaran dan persekutuan para rasul. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwagaya hidup gereja mula-mula memberikan dampak yang baik dari masyarakat sekitar. Gaya hidup yang pernah dilakukan oleh gereja mula-mula dapat diikuti oleh gereja saat ini, agar dapat diterima dan disukai oleh masyarakat tempat gereja tersebut tinggal.
Bayu (2020) penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dan merancang sistem informasi akuntansi keuangan penerimaan dan pengeluaran kas. Merancang sistem informasi akuntansi keuangan dalam rangka meningkatkan efektivitas pengendalian penerimaan dan pengeluaran kas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Jenis data yang digunakan adalah data kualitatif yang berupa sejarah singkat organisasi, struktur organisasi dan informasi yang relevan. Metoda pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian pustaka dan penelitian lapangan. Dari hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa sistem informasi akuntansi keuangan dalam Gereja HKBP Cilincing Jakarta sudah menggunakan komputer tetapi masih secara manual. Maka peneliti merancang sistem informasi akuntansi dengan menggunakan aplikasi PHP dan MySQL diintegrasikan dengan PHPMyAdmin dengan XAMPP sebagai web server. Aplikasi ini dapat digunakan untuk mengolah data dan laporan data keuangan.
Siahaan(2018) Penelitian ini mengkaji tentang system informasi akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas yang meliputi fungsi, dokumen, catatan akuntansi, dan prosedur yang terkait pada HKBP Cilincing. Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan metode menggunakan metode pengumpulan data yaitu dokumentasi. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder kemudian menggunakan metode analisis data deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (a) secara umum struktur organisasi sudah menunjukkan adanya pemisahan fungsi dan tanggungjawab yang baik, meskipun masih ada hal yang perlu ditingkatkan lagi, (b) dokumen-dokumen yang digunakan dalam penerimaan dan pengeluaran kas juga telah cukup baik dan memadai, (c) Catatan Akuntansi yang digunakan dalam penerimaan dan pengeluaran berbasis computer dengan menggunakan aplikasi SAP (System Analysis and Program Devlopment, (d) Pelaksanaan prosedur system informasi akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas secara umum pada perusahaan sudah cukup baik dan memadai pelaksanaannya, meskipun ada beberapa bagian yang harus ditingkatkan.Berdasarkan hasil penelitian adapun saran yang dapat diberikan oleh peneliti: (a) Dalam prosedur penerimaan kas sebaiknya penerimaan bukti pembayaran dikirim langsung oleh penggunajasa kepada bagian akuntansi agar tidak terjadi penyelewengan dan manipulasi terhadap penerimaan kas, (b) HKBP Cilincing juga dapat memilih opsi alternative untuk menggunakan pencatatan akuntansi secara manual, untuk mengantisipasi apabila ada masalah atau kerusakan pada Aplikasi SAP (System Analysis and Program Development)
Senga (2019) Tujuannya adalah untuk menggambarkan pengendalian internal dari organisasi keagamaan dan memberikan penilaian terhadap perbedaan kebijakan maupun prosedur yang terdapat pada organisasi keagamaan. Pengendalian internal adalah merupakan suatu proses integral yang dilakukan untuk mengatasi setiap risiko yang ada dan untuk memberikan kepastian dalam pencapaian misi entitas dengan mencapai tujuan umum. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, perolehan data dengan metode wawancara dan observasi terhadap. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua organisasi sudah menerapkan dasar-dasar dari sistem pengendalian internal yang baik. Hal ini menunjukkan bahwa organisasi keagamaan mampu meningkatkan pengendalian internal mereka dengan memulai hal dasar untuk mengamankan aset yang mereka miliki sehingga hingga saat ini belum terdapat peyimpangan yang bersifat signifikan terhadap organisasi.
Emylia (2019) Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan gereja ditinjau dari aspek perilaku pengelola gereja dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Atribusi dan Teori Stewardship. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, data dalam penelitian ini diperoleh dari wawancara mendalam, dokumentasi, dan observasi pada objek penelitian. Teknik analisis yang digunakan dalam analisis Miles dan Huberman yaitu model analisis interaktif dan komparatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan gereja didasarkan pada nilai-nilai alkitabiah yaitu kasih, pelayanan, dan ketaatan kepada Tuhan. Pengelola gereja memandang tugas dan tanggung jawabnya di gereja sebagai bentuk penghormatan langsung dari Tuhan. Juga menjadi motivasi dalam diri pengurus gereja untuk selalu akuntabel dalam menjalankan pengelolaan keuangan.
Jannes Samuel (2020) Menyatakan bahwa keberadaan gereja sebagai lembaga keagamaan yang sakral dan berdasar standar moral tinggi memperkuat tuntutan akan akuntabilitas pengelolaan dana. Namun, penerapan akuntansi dan akuntabilitas yang kurang memadai, serta lemahnya pengendalian internal masih menjadi persoalan yang umum terjadi pada gereja. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi akuntabilitas keuangan dan pengendalian internal di gereja HKBP Cilincing dalam perspektif teori stewardship. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan eksploratif. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan observasi dan wawancara dengan para pihak yang melayani pada bidang keuangan. Berdasarkan temuan dan analisis, diperoleh hasil bahwa faktor penghambat akuntabilitas keuangan dan pengendalian internal meliputi ketiadaan standar akuntansi, belum terlaksananya kegiatan yang mengedukasi para steward terkait keuangan gereja, dan ketiadaan pegawai keuangan. Sedangkan, faktor pendorong akuntabilitas keuangan dan pengendalian internal sejalan dengan teori stewardship, yakni kolaborasi, kultur organisasi, motivasi untuk berbuat yang terbaik, komitmen pada nilai organisasi, dan persepsi bahwa akuntansi adalah sebuah kebutuhan bagi gereja.
Arfianty (2020) Setiap organisasi membutuhkan suatu sistem informasi untuk mempermudah kegiatan yang telah dilakukan direncanakan dan diawasi untuk mengendalikan arus kas keuangan perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi sistem informasi akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas serta mengamati apakah terdapat sinkronisasi antara sistem dengan aplikasi yang ada. Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif yaitu penelitian yang dimulai dengan mengumpulkan dan mengamati semua bagian dalam informasi yang datang secara utuh dan detail-detailnya kemudian dikolaborasikan untuk mendapatkan suatu hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem informasi akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas padaperusahaan cukup baik, walaupun terdapat sedikit kesalahan pada saat menginput uang tunai dan nama konsumen, namun dapat memenuhi unsur-unsur penting dari sistem informasi akuntansi yaitu sumber daya manusia, peralatan, formulir atau dokumen, catatan/catatan, prosedur, dan laporan. . Prosedur penerimaan dan pengeluaran kas disusun dan dilakukan sebaik mungkin untuk menghindari kesalahan yang mungkin terjadi, sehingga sampai saat ini sistem informasi akuntansi penerimaan dan pengeluaran kasdapat terlaksana dengan efektif.
Silaban (2020) Penerapan Sistem dan Prosedur Akuntansi Kas pada Gereja GPMII Jemaat Kalam Kudus di Kabupaten Kutai Kartanegara. Dibawah bimbingan Bapak H. Hamid Bone dan Ibu Wulan Iyhig Ratna Sari.Gereja GPMII merupakan bagian dari entitas publik dan semua aktivitas yang berkaitan dengan keuangan harus dipertanggungjawabkan kepada publik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan unsur-unsur sistem pengendalian internal pada sistem dan prosedur penerimaan dan pengeluaran kas di Gereja GPMII Jemaat Kalam Kudus Kabupaten Kutai Kartanegara. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan Gereja GPMII sebagai studi kasus. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penerimaan kas masih lemah dimana gereja tidak memiliki nomor rening bank tetapi menyimpan kas gereja di nomor rekening bendahara dan dicampur dengan uang pribadi bendahara. Gereja tidak menyetor penerimaan kas ke bank sesegera mungkin tetapi penyetoran kas dilakukan apabila kas sudah terkumpul selama satu bulan, tidak melakukan perhitungan saldo kas yang ada ditangan secara periodik. Pengeluaran kas masih lemah dimana fungsi penyimpanan kas tidak tepisah dari fungsi pencatatan dan tidak dilakukan rekonsiliasi bank oleh bendahara dan gereja tidak membuat nominal dana kas kecil.
2.2. Landasan Teori
2.2.1 Organisasi
2.2.1.1 Pengertian Organisasi
Organisasi dapat dikatakan sebagai alat untuk mencapai tujuan, oleh karena itu organisasi dapat dikatakan sebagai wadah kegiatan dari orang – orang yang bekerjasama dalam usahanya untuk mencapai tujuan. Dalam sebuah organisasi setiap anggotanya harus memiliki tugas dan tanggung jawab yang jelas.
Menurut Robbin (2011 : 235) organisasi adalah kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan. Mereka dibatasi oleh aturan – aturan tertentu. Sedangkan menurut Hasibuan (2011 : 120) organisasi adalah suatu sistem perserikatan formal, berstruktur dan terkoordinasi dari sekelompok orang yang bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa organisasi adalah suatu wadah yang terdiri dari unsur manusia yang saling bekerja sama dan saling menguntungkan untuk kepentingan bersama dalam pencapaian tujuan organisasi.
2.2.1.2 Karakteristik Organisasi
Organisasi memiliki beberapa karakteristik, berikut adalah karakteristik yang dimiliki oleh organisasi menurut Robbin (2011 : 235) :
1. Unit/Entitas Sosial
Organisasi merupakan hasil karya manusia yang bersifat tidak kasat mata dan abstrak, karena sifatnya tersebut organisasi lebih merupakan realitas sosial ketimbang sebagai realitas fisik.
2. Beranggotakan Minimal Dua Orang
Salah satu prasyaratan agar sebuah entitas sosial dapat disebut sebagai sebuah organisasi adalah harus beranggotakan minimal dua orang atau lebih agar kedua orang tersebut dapat saling bekerjasama, melakukan pembagian kerja, dan terdapat spesialisasi dalam pekerjaan yang mereka jalankan.
3. Berpola Kerja Yang Terstruktur
Apabila sudah terdapat beberapa orang yang berkumpul dalam sebuah entitas sosial tetapi belum memiliki pola kerja yang terstruktur dan tidak terkoordinasi maka entitas tersebut belum dapat dikatakan sebagai sebuah organisasi.
4. Mempunyai Tujuan
Tujuan didirikannya sebuah organisasi adalah untuk mencapai sebuah tujuan yang dari awal organisasi tersebut di bentuk sudah ditetapkan.
5. Mempunyai Identitas Diri
Identitas formal sebuah organisasi dapat dilihat dari akta pendirian organisasi tersebut yang menjelaskan tentang siapa saja yang menjadi bagian dari organisasi, kegiatan apa yang dilakukan, bagaimana dan oleh siapa organisasi tersebut diatur. Disamping itu identitas sebuah organisasi dapat juga dilihat dari budaya yang diterapkan di organsiasi tersebut.
2.2.1.3 Prinsip Organisasi
Prinsip Organisasi adalah suatu pondasi yang menjadi pokok dasar atau yang menjadi pangkal-tolak di dalam menggerakan organisasi. Oleh karena itu, organisasi dibangun dan digerakandiataspondasi yang berupa prinsip organisasi, dan setiap prinsip mengandung suatu kebenaran, sehingga tercapa atau tidaknya tujuan organisasi tergantung pada kemampuan pimpinan organisasi dalam melaksanakan prinsip organisasi. Adapun prinsip organisasi menurut Robbin (2011 : 237) adalah sebagai berikut :
1. Mempunyai tujuan yang jelas
Tujuan merupakan sesuatu atau sasaran yang hendak dicapai. Karena tujuan yang hendak dicapai adalah tujuan organisasi maka tujuan tersebut harus dicapai melalui kerjasamasekolompok orang dimana tujuan tersebut harus dirumuskan dan ditetapkan dengan jelas.
2. Mempunyai kesatuan perintah
Maksud dari prinsip ini adalah bahwa setiap pegawai dalam organisasi hendaknya memiliki atasan langsung. Hal ini berarti setiap bawahan hanya dapat diperintah secara langsung oleh satu orang atasan sehingga seorang bawahan bertanggung jawab secara langsung kepada atasannya.
3. Ada keseimbangan
Organisasi selalu membutuhkan keseimbangan. Prinsip keseimbangan dalam organisasi dapat dibedakan beberapa macam, misalnya keseimbangan antara sentralisasi dan desentraisasi kewenangan, keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab, keseimbangan antara pengeluaran dan penerimaan, dan kerugian yang diderita oleh suatu unit harus diimbangi oleh keuntungan yang didapat dari unit lain.
4. Ada pendistribusian pekerjaan
Prinsip pendistribusian pekerjaan disebut juga prinsip pembagian tugas. Prinsip sebagian pekerjaan secara homogen adalah mengelompokan tugas atau pekerjaan yang sejenis atau yang erat hubungannya menjadi satu unit tersendiri. Jadi dalam pembagian tugas, macam – macam tugas dalam organisasi dibagi-bagi menjadi sedemikian rupa agar dapat dilaksanakan oleh satuan unit tertentu atau pejabat tertentu.
5. Ada rentangan pengawasan
Rentangan pengawasan adalah seberapa jauh kemampuan seseorang pemimpin mampu mengawasi bawahannya secara cepat dan tepat.
6. Ada pelimpahan wewenang
Pelimpahan wewenang berarti penyerahan sebagian kekuasaan dari seseorang atasan kepada pejabat bawahan dan kepada pejabat lain untuk melakukan suatu pertanggungjawaban. Jadi, pelimpahan belum tentu mengalir dari seorang atasan kepada bawahan, tetapi dapat juga terjadi dari seorang atasan kepada pejabat yang setingkat.
7. Ada departementalisasi
Prinsip departementalisasi disebut juga dengan istilah departementasi. Departementasi adalah proses penggabungan pekerjaan ke dalam kelompok pekerjaan yang sejenis. Setiap fungsi merupakan tugas dan tanggung jawab dari suatu unit tertentu dalam organisasi.
8. Ada penempatan pegawai yang tepat
Salah satu prinsip bidang kepagawaian adalah therightman in therightplace, yang berarti penempatan pegawai harus sesuai dengan keahlian yang dimiliki.
9. Ada koordinasi
Koordinasi adalah suatu usaha untuk mendapatkan keselarasan gerak, keselarasan aktivitas dan keselarasan tugas antar satuan organisasi yang ada didalam organisasi. Tujuan organisasi akan tercapai secara efektif apabila semua orang, semua pejabat, dan semua unit/kesatuan organisasi serta semua sumber daya diselaraskan dengan tujuan organisasi.
10. Ada balas jasa yang memuaskan
Balas jasa adalah imbalan yang diberikan kepada seorang atas jerih payah yang telah disumbangkannya. Untuk memberikan balas jasa yang memuaskan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya dengan gaji yang menarik dan dengan pemberian jaminan sosial.
2.2.1.4 Ciri – Ciri dan Unsur Organisasi
Ada beberapa ciri – ciri organisasi, menurut Robbin (2011 : 240) didalam bukunya mengemukakan bahwa organisasi memiliki beberapa unsur, diantaranya adalah :
1. Man (orang – orang), dalam kehidupan organisasi sering disebut dengan istilah pegawai atau personel.
2. Kerja sama, maksudnya adalah suatu perbuatan bantu membantu atau suatu perbuatan yang dilakukan bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama.
3. Tujuan bersama, merupakan arah atau sasaran yang ingin dicapai dan juga menggambarkan apa yang haus dicapai melalui prosedur, program, pola, kebijakan, strategi, anggaran dan peraturan-peraturannya yang telah ditetapkan.
4. Peralatan, terdiri dari semua sarana yang berupa materi, mesin-mesin, uang dan barang modal lainnya (tanah, gedung/bangunan/kantor)
5. Lingkungan.
6. Kekayaan alam, misalnya keadaan iklim, cuaca, udara, air, flora dan fauna.
7. Kerangka atau kontruksi mental organisasi, berupa prinsip – prinsip organisasi.
2.2.1.5 Organisasi Nirlaba
Secara umum organisasi nirlaba atau organisasi non-profit adalah sebuah organisasi yang tidak memiliki tujuan atau orientasi terhadap laba atau keuntungan. Kebanyakan organisasi nirlaba bergerak di bidang sosial ataupun keagamaan. Berikut ini adalah contoh dari organisasi nirlaba :
1. Rumah sakit pemerintah
2. Sekolah pemerintah
3. Universitas pemerintah
4. Yayasan keagamaan
5. Lembaga pemerintah
Menurut Mahsunetal (2013 : 185) organisasi nirlaba adalah sebuah organisasi yang memperoleh sumber daya dari sumbangan para anggota dan para penyumbang lain yang tidak mengharapkan imbalan apapun dari organisasi tersebut.
Sedangkan menurut Muhtia dan I Gusti (2016 : 2) organisasi nirlaba merupakan organisasi yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pelayanannya.
Jadi berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa organisasi nirlaba adalah yang bertujuan menyediakan pelayanannya bagi masyarakat tanpa berorientasi pada keuntungan.
2.2.1.6 Karakteristik Organisasi Nirlaba
Mahsun (2013 : 187) menjelaskan bahwa organisasi nirlaba memiliki beberapa karakteristik, antara lain :
1. Sumber daya entitas berasal dari para penyumbang yang tidak mengharapkan pembayaran kembali atau manfaat ekonomi yang sebanding dengan jumlah sumber daya yang diberikan.
2. Menghasilkan barang/jasa tanpa bertujuan memupuk laba, dan kalau suatu entitas menghasilkan laba, maka jumlahnya tidak pernah dibagikan kepada para pendiri atau pemilik entitas tersebut.
3. Tidak ada kepemilikan seperti lazimnya pada organisasi bisnis, dalam arti bahwa kepemilikan dalam organisasi nirlaba tidak dapat dijual, diahlikan, atau ditebus kembali, atau kepemilikan tersebut tidak mencerminkan proporsi pembagian sumber daya entitas pada saat likuidasi atau pembubaran entitas.
Berdasarkan beberapa karakteristik diatas, maka gereja dapat dikategorikan sebagai organisasi nirlaba. Sumber daya yang diperoleh gereja berasal dari para jemaat yang memberi secara sukarela tanpa mengharapkan imbalan kembali. Gereja juga tidak memiliki tujuan untuk mencari laba, melainkan lebih mengutamakan memberikan pelayanan kepada anggota jemaatnya.
2.2.2. Gereja dan Ajarannya
2.2.2.1 Pengertian Gereja
Menurut Sukoco (2010 : 22) Gereja adalah kehidupan bersama religious kristiani yang berpusat pada penyelamatan Allah dalam Tuhan Yesus Kristus, yang didalamnya Roh Kudus bekerja dalam rangka pekerjaan penyelamatan Allah. Ada dua sisi yang dipakai untuk memahami mengenai gereja, yaitu :
1. Sisi Illahi
Dalam sisi illahi, gereja diyakini sebagai “buah pekerjaan penyelamatan Allah”.
Allah mengasihi gereja dan menguduskannya untuk menjadi milik kepunyaanNya. Allah memperdulikan gereja, memelihara gereja, dan menerima segala sesuatu yang dipersembahkan oleh orang – orang percaya kepada-Nya didalam dan melalui kehidupan gereja.
2. Sisi Manusiawi
Dalam sisi manusiawi, gereja sebagai suatu kehidupan bersama religious yang diciptakan dan dijalani oleh manusia untuk menjawab penyelamatan Allah.
2.2.2.2. Ajaran Gereja
Dalam orang Kristen ada pedoman-pedoman khusus yang senantiasa melekat dalam kehidupan mereka yang sejatinya diyakini berasal dari Tuhan. Pedoman tersebut difungsikan untuk pedoman berperilaku bagi orang-orang beragama Kristen khususnya, pedoman yang pertama biasa disebut dengan “Dasa Titah” yang merupakan sepuluh ajaran Tuhan yang diberikan kepada manusia. Pedoman yang kedua adalah “Hukum Kasih” yang sebenernya diwajibkan bagi umat Kristen untuk melaksanakan hukum tersebut.
Dasah Titah mempunyaiperanan :
a. Sebelum seseorang mengenal anugrah Allah dalam Yesus Kristus, hukum itu menunjukan bahwa dia adalah manusia berdosa
b. Bagi orang yang sudah menerima keselamatan dalam Yesus Kristus, Dasa Titah menjadi pedoman hidup baru bukan sebagai jalan keselamatan.
Di dalam Matius 22 : 37-40 dituliskan tentang Hukum Kasih, isi Hukum Kasih ini adalah
1. Siapa yang mengasihi Tuhan, haruslah pula mengasihi sesame manusia yang telah dijadikan menurut gambar-Nya. Dan inilah Hukum Kasih yang diberikan oleh Tuhan Yesus: “Kasihilah Tuhan,Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
2. “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Ajaran gereja tentang Alkitab adalah firman Allah yang mempunyai otoritas kuasa dan menjadi dasar kekristenan yang mutlak. Melalui Alkitab manusia dapat dituntun pada keselamatan oleh iman kepada Tuhan Yesus bahwa sebagai orang percaya kita mengakui bahwa alkitab memberikan pengajaran yang lebih besar dan lebih baik, karena Alkitab merupakan kesaksian karya penyelamatan yang dilakukan oleh Allah. Oleh Karena itu yang diajarkan Alkitab bersifat kekal dan selalu relevan dalam kehidupan manusia. Ajaran alkitab memberikan terang bagi manusia dalam kegelapan, memberikan pengharapan bagi yang berputus asa, penghiburan bagi yang susah, dan memberi kekuatan bagi yang lemah. Ajarannya dipergunakan oleh gereja sebagai sumber pengajaran tertinggi, berfungsi sebagai alas, norma dan standar ata pengajaran, menegur, pembenaran, dan pembinaan dalam kehidupan yang benar.
2.2.2.3. Sistem Pemerintahan Gereja
Yang dimaksud dengan sistem pemerintahan gereja adalah tata cara yang dipakai untuk mendasari pengorganisasian atau pemerintahan di gereja. Menurut Sukoco (2010 : 30) terdapat beberapa model sistem pemerintahan gereja, yaitu :
a. Sistem Papal, yaitu sistem pemerintahan gereja yang secara hierarkis dipimpin oleh Paus/Ephorus sebagai kepala gereja sedunia, yang merupakan wakil kristus didunia ini.
b. Sistem Caeropapal, yaitu sistem pemerintahan gereja yang secara hierarkis dipimpin oleh raja sebagai pemimpin negara sekaligus pemimpin gereja.
c. Sistem Episcopal, yaitu sistem pemerintahan gereja yang dipimpin oleh para imam.
d. Sistem Collegial, yaitu sistem pemerintahan gereja yang dipimpin oleh majelis gereja, majelis klasis dan majelis sinode yang memiliki kewenangannya masing – masing.
e. Sistem Konggregasional, yaitu sistem pemerintahan gereja yang mengakui bahwa masing – masing gereja berdiri sendiri – sendiri secara independen, tanpa hubungan yang satu dengan yang lainnya.
f. Sistem Presbiterial, yaitu sistem pemerintahan gereja yang dipimipin oleh majelis gereja (presbiter) pada masing – masing gereja.
2.2.2.4. Manajemen Keuangan Gereja
Menurut Halim (2012 : 457) manajemen keuangan adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh dana dan menggunakan dana dengan tujuan meningkatkan atau memaksimalkan nilai sebuah organisasi. Dalam konteks peribadatan Halim (2012 : 457) menyatakan bahwa manajemen keuangan peribadatan sebuah gereja adalah usaha yang dilakukan oleh pengurus gereja dalam menggunakan dana umat sesuai dengan ketentuan dalam ajaran agaman dan kepentingan umat beragama, serta bagaimana memperoleh dana dari umat dengan cara – cara yang dibenarkan oleh ajaran agama. Dalam manajemen keuangan terdapat 2 fungsi yaitu :
a. Fungsi Mendapatkan Dana
Fungsi mendapatkan dana adalah bagaimana cara pengurus gereja dalam mendapatkan dana yang sesuai dengan ajaran agama dan tidak memberatkan umat.
b. Fungsi Menggunakan Dana
Fungsi menggunakan dana adalah bagaimana menggunakan dana secara efektif dan efisien. Fungsi ini juga berkaitan dengan pertanggungjawaban pengelolaan dana.
Sumber pendanaan gereja berasal dari persembahan jemaat, Ucapan Syukur Jemaat dansumbagan – sumbangan pihak tertentu. Aliran dana tersebut dilakukan secara sukeral atau dilakukan dalam rangka memenuhi kewajibannya sebagai umat beragama. Pertanggungjawaban gereja dilakukan kepada seluruh umat yang telah memberikan amanahnya, dan merupakan bagian terpenting dalam menciptakan kredibilitas pengelolaan yang dijalankan oleh pengurus gereja.
2.2.3. Sistem Informasi Akuntansi
Secara umum sistem informasi akuntansi adalah suatu sistem yang mengumpulkan, mencatat, dan memproses data keuangan dan data nonkeuangan yang terkait dengan transaksi keuangan untuk menghasilkan informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan.
Menurut Romney dan Steinbart (2015 : 11), akuntansi adalah sistem informasi karena sistem informasi akuntansi mengumpulkan, mencatat, menyimpan dan memproses akuntansi dan data lain untuk menghasilkan informasi bagi pembuat keputusan.
Hal serupa disampaikan juga oleh Mulyadi (2016 : 3) dia menyatakan bahwa sistem informasi akuntansi merupakan kumpulan sumber daya seperti manusia dan peralatan yang dirancang untuk mengubah data keuangan dan data lainnya kedalam informasi. Informasi tersebut dikomunikasikan kepada para pembuat keputusan.
Berdasarkan beberapa pengertian para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa sistem informasi akuntansi adalah sebuah sistem yang memproses dan mengumpulkan data transaksi untuk menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi pihak – pihak yang memerlukannya.
2.2.3.1 Tujuan Sistem Informasi Akuntansi
Sebuah sistem informasi akuntansi yang baik dapat tercipta dari adanya sebuah kerjasama yang baik pula diantara manusia dengan sumber daya yang lainnya didalam sebuah organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Tujuan umum dari pengembangan sistem informasi akuntansi menurut Mulyadi (2016 : 19) adalah sebagai berikut :
1. Untuk menyediakan informasi bagi pengelola kegiatan dalam organisasi.
2. Untuk memperbaiki informasi yang dihasilkan oleh sistem yang sudah ada, baik mengenai mutu, ketepatan penyajian, maupun struktus informasi.
3. Untuk memperbaiki pengendalian akuntansi dan pengecekan internal, yaitu untuk memperbaiki tingkat keandalan (reability) informasi akuntansi dan untuk menyediakan catatan lengkap mengenai pertanggung jawaban dan perlindungan kekayaan perusahaan.
4. Untuk mengurangi biaya klerikal dalam penyelenggaraan catatan akuntansi.
Sedangkan Romney dan Steinbart (2015 : 19) menyatakan bahwa tujuan dari sistem informasi akuntansi :
1. Mengumpulkan dan menyimpan data tentang aktivitas – aktivitas yang dilaksanakan oleh organisasi, sumber daya yang dipengaruhi oleh aktivitas – aktivitas tersebut, dan para pelaku yang terlibat dalam berbagai aktivitas tersebut.
2. Mengubah data menjadi informasi yang berguna bagi pihak manajemen untuk membuat keputusan dalam aktivitas perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi.
3. Menyediakan pengendalian yang memadai untuk menjaga aset – aset organisasi, termasuk data organisasi, untuk memastikan bahwa data tersebut tersedia saat dibutuhkan, akurat dan andal.
2.2.3.2. Unsur – Unsur Sistem Informasi Akuntansi
Adapun unsur – unsur sistem informasi akuntansi menurut Romney dan Steinbart (2015 : 11), adalah sebagai berikut :
1. Orang – orang yang mengoperasikan sistem tersebut dan melaksanakan berbagai
fungsi.
2. Prosedur – prosedur, baik manual maupun yang terotomatisasi, yang dilibatkan dalam mengumpulkan, memproses dan menyimpan data tentang aktivitas – aktivitas organisasi.
3. Data tentang organisasi dan aktvitasnya
4. Software yang dipakai untuk memproses data organisasi
5. Infrastruktur teknologi informasi, termasuk computer, peralatan pendukung, dan peralatan untuk komunikasi yang digunakan untuk sistem informasi akuntansi
6. Pengendalian internal dan pengukuran keamanan yang menyimpan data sistem informasi akuntansi.
Sedangkan menurut Azhar Susanto (2013 : 73-76), unsur – unsur sistem informasi akuntansi adalah sebagai berikut :
1. Perangkat Lunak (Software)
2. Perangkat Keras (Hardware)
3. Manusia (Brainware)
4. Prosedur (Procedure)
5. Data (Database)
6. Jaringan Komunikasi (Communication Network)
2.2.3.4. Manfaat Sistem Informasi Akuntansi Bagi Organisasi
Sistem informasi akuntansi dapat memberikan manfaat bagi organisasi dengan cara memberikan informasi yang akurat dan tepat waktu, agar aktivitas dalam rantai nilai dan dijalankan dengan efektif dan efisien (Romney dan Steinbart, 2015 : 8). Manfaat – manfaat diterapkannya sistem informasi akuntansi bagi organisasi, diantaranya :
1. Memperbaiki kualitas serta mengurangi biaya untuk menghasilkan produk atau jasa.
Sistem informasi akuntansi yang dirancang dengan baik dapat memberikan informasi apabila terjadi proses produksi yang kurang baik atau tidak sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan organisasi, sehingga dapat segera diperbaiki.
2. Memperbaiki Efisiensi
Sistem informasi akuntansi yag dirancang dengan baik dapat membantu memperbaiki efisiensi jalannya suatu proses dengan memberikan informasi yang tepat waktu.
3. Memperbaiki Pengambilan Keputusan
Sistem informasi akuntansi dapat memperbaiki pengambilan keputusan dengan memberikan informasi yang tepat waktu.
4. Berbagi Pengetahuan
Sistem informasi akuntansi yang dirancang dengan baik dapat mempermudah proses berbagi pengetahuan dan keahlian, yang selanjutnya dapat memperbaiki proses operasi perusahaan dan bahkan memberi keunggulan yang kompetitif.
Sedangkan menurut Azhar Susanto (2013 : 8), manfaat dari sistem informasi akuntansi adalah sebagai berikut :
1. Mendukung Aktivitas Sehari – hari Dalam Perusahaan
Agar sebuah perusahaan dapat bertahan, perusahaan tersebut harus selalu melakukan kegiatan bisnis yang biasa disebut transaksi, seperti pembelian, penyimpanan, proses produksi dan penjualan.
2. Mendukung Proses Pengambilan Keputusan
Salah satu manfaat dari sistem informasi akuntansi adalah memberikan informasi yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk melakukan pengambilan keputusan yang tepat.
3. Membantu Perusahaan Memenuhi Tanggung Jawab Pada Pihak Eksternal
Sistem informasi akuntansi dapat membantu perusahaan untuk memberikan informasi yang akurat kepada semua pihak yang memiliki kepentingan atau stakeholder yang meliputi investor, pemasok, pelanggan, para pekerja atau public secara umum.
Berdasarkan uraian diatas dapat dijelaskan bahwa sistem informasi akuntansi sangat bermanfaat bagi pelaksanaan aktivitas organisasi, karena dengan adanya sistem informasi akuntansi yang baik akan mengurangi ketidakpastian terhadap tindakan yang telah dilakukan.
2.2.4. Pengendalian Internal
Pengendalian Internal merupakan bagian yang sangat penting pada sebuah organisasi agar dapat mencapai tujuannya. Tanpa adanya pengendalian internal yang baik, tujuan dari sebuah organisasi tidak akan tercapai secara efektif dan efesien. Semakin besar sebuah organisasi maka semakin penting pula fungsi pengendalian internal dalam organisasi tersebut.
Pengendalian internal adalah sebuah proses yang diimplementasikan untuk memberikan jaminan yang memenuhi beberapa objektif dari pengendalian internal, diantaranya yaitu menjaga aset, menjaga catatan dalam detail yang cukup untuk pelaporan aset perusahaan yang tepat dan akurat, menyediakan laporan keuangan dengan kriteria yang ditentukan, mendorong dan meningkatkan efesiensi operasional, mendorong ketaatan dalam hal manjerial, dan memenuhi persyaratan dari regulasi dan peraturan yang ada (Rommey dan Steinbart, 2015 : 2016).
Sedangkan menurut Hery (2013 : 159) pengendalian internal adalah seperangkat kebijakan dan prosedur untuk melindungi aset atau kekayaan organisasi dari segala bentuk tindakan penyalahgunaan, menjamin tersedianya informasi akuntansi perusahaan yang akurat, serta memastikan bahwa semua ketentuan hukum atau undang – undang serta kebijakan manajemen telah dipatuhi atau dijalankan sebagaimana mestinya oleh seluruh anggota organisasi.
Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengendalian internal adalah suatu cara yang berisikan seperangkat kebijakan dan peraturan yang bertujuan untuk mengarahkan, mengawasi, dan melindungi sumber daya perusahaan agar dapat terhindar dari semua bentuk penyalahgunaan dan penyelewengan.
2.2.4.1. Tujuan Pengendalian Internal
Menurut Hery (2013 : 160) tujuan pengendalian internal tidak lain adalah untuk memberikan jaminan yang memadai bahwa :
1. Aset yang dimiliki oleh organisasi telah diamankan sebagaimana mestinya dan hanya digunakan untuk kepentingan perusahaan semata, bukan untuk kepentingan individu atau oknum karyawan tertentu.
2. Pengendalian diterapkan agar supaya seluruh aset organisasi dapat terlindungi dengan baik dari tindakan penyelewengan, pencurian, dan penyalahgunaan yang tidak sesuai dengan wewenangnya dan kepentingan perusahaan.
3. Informasi perusahaan tersedia secara akurat dan dapat diandalkan.
4. Karyawan telah menaati hukum dan peraturan yang berlaku.
Sedangkan menurut Mulyadi (2016 : 140) tujuan pengendalian internal adalah sebgai berikut :
a. Menjaga kekayaan perusahaan
1) Penggunaan kekayaan perusahaan hanya melalui sistem otoritas yang telah ditetapkan.
2) Pertanggungjawaban kekayaan perusahaan yang dicatat dibandingkan dengan kekayaan yang sesungguhnya ada.
b. Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi
1) Pelaksanaan transaksi melalui sistem otoritas yang telah ditetapkan.
2) Pencatatan transaksi yang terjadi dalam catatan akuntansi.
2.2.4.2. Sistem Pengendalian Internal
COSO (2013: 4) mengklasifikasian 5 komponen sistem dari pengendalian internal (elements internal control). Komponen tersebut adalah sebagai berikut :
1. Lingkungan pengendalian
Lingkungan pengendalian terdiri atas tindakan, kebijakan dan prosedur yang mencerminkan sikap manajemen puncak, para direktur, dan pemilik entitas secara keseluruhan mengenai pengendalian internal serta arti pentingnya bagi entitas itu sendiri.
2. Penilaian risiko (risk assessment)
Merupakan tindakan yang dilakukan manajemen untuk mengidentifikasi dan menganalisis risiko-risiko yang relevan dengan penyusunan laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum.
3. Aktivitas pengendalian
Aktivitas pengendalian umumnya terdiri dari lima jenis aktiva seperti pemisahan tugas yang memadai, otoritas yang sesuai atas transaksi dan aktivitas, dokumen dan catatan yang memadai, pengendalian fisik atas aktiva dan catatan, pemeriksaan kinerja secara independen.
4. Pengawasan
Pengawasan berhubungan dengan penilaian mutu pengendalian internal secara berkelanjutan atau secara periodik oleh manajemen untuk menentukan bahwa pengendalian itu telah beroperasi seperti yang diharapkan, dan telah dimodifikasi sesuai dengan perubahan kondisi.
5. Informasi dan Komunikasi
Tujuan sistem informasi dan komunikasi akuntansi dari entitas adalah untuk memulai, mencatat, memproses, dan melaporkan transaksi yang dilakukan entitas itu serta mempertahankan akuntanbilitas aktiva terkait.
Adapun Mulyadi (2016 : 150) menyebutkan ada empat sistem pengendalian internal yang harus dipenuhi, yaitu :
1. Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional.
Struktur organisasi merupakan sebuah kerangka untuk pembagian tanggung jawab atau pemisahan fungsi pada setiap anggota organisasi untuk menjalankan kegiatan-kegiatan pokok dari organisasi. Pembagian tanggung jawab dan pemisahan fungsi dalam sebuah organisasi harus berdasarkan prinsip-prinsip berikut :
a. Harus memisahkan fungsi-fungsi operasi dan fungsi-fungsi penyimpana.
b. Suatu fungsi tidak diperbolehan untuk melaksanakan semua tahap dari
transaksi.
2. Sistem otoritas dan prosedur pencatatan.
Dalam sebuah organisasi semua transaksi yang ada hanya dapat terjadi apabila ada otoritas dari pihak yang memiliki wewenang. Oleh karena itu dalam sebuah organisasi harus dibuat sebuah sistem yang mengatur otoritas dalam setiap transaksi yang terlaksana. Sedangkan prosedu pencatatan yang baik dalam sebuah organisasi akan menjamin data yang direkam dalam dokumen atau catatan akuntan dengan ketelitian dan keandalan yang tinggi.
3. Praktik yang sehat dalam melaksanan tugas dan fungsi pada setiap unit organisasi.
Pembagian tanggung jawab atau pemisahan fungsi, sistem otoritasi dan prosedur tidak akan berjalan dengan baik tanpa ada praktik yang sehat didalam sebuah organisasi. Adapun cara-cara yang digunakan oleh sebuah organisasi guna mewujudkan praktik yang sehat adalah :
a. Penggunaan dokumen, formulir dan bukti-bukt transaksi bernomor urut tercetak. Karena semua hal tersebut merupakan sebuah alat untuk memberikan otoritasi guna terlaksananya sebuah transaksi, sehinga dengan pemberian nomor urut akan dapat menetapkan pertanggungjawaban transaksi.
b. Pengawasan dan evaluasi, dengan adanya sebuah pengawasan evaluasi maka organisasi dapat selalu mengontrol semua transaksi yang terjadi, sehingga dapat meminimalisir timbulnya kecurangan.
4. Karyawan yang memiliki kompetensi sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan.
Di dalam mencapai tujuannya sebuah organisasi memerlukan orang-orang yang memiliki kompetensi dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. Selain itu factor kejujuran dan pengalaman menjadi kunci penting keberhasilan dalam sebuah organsasi. Untuk mendapatkan karyawan yang kompeten dan bertanggung jawab ada beberapa cara yang dapat ditempuh :
a. Seleksi calon karyawan sesuai dengan persyaratan yang dibutuhkan oleh
organisasi.
b. Melakukan pelatihan dan pengembangan terhadap semua karyawan.
c. Menanamkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh organisasi.
2.2.4.3. Jenis – Jenis Pengendalian Internal
Menurut Mulyadi (2016 : 145), pengendalian internal dikelompokan menjadi lima, yaitu :
1. Pengendalian Preventif
Pengendalian ini dilakukan sebagai antisipasi untuk mencegah terjadinya penyimpangan, seperti pemisahan fungsi.
2. Pengendalian Detektif
Pengendalian ini memfokuskan pada upaya penemuan sebuah kesalahan yang mungkin terjadi, seperti rekonsiliasi bank dan perhitungan fisik kas.
3. Pengendalian Korektif
Pengendalian ini sebagai upaya mengkoreksi penyebab terjadinya masalah dan sebagai antisipasi agar kesalahan yang sama tidak terulang dimasa yang akan datang.
4. Pengendalian Langsung
Pengendalian yang dilakukan pada saat kegiatan berlangsung agar sesuai dengan prosedur yang berlaku, seperti supervise oleh atasan kepada bawahan.
5. Pengendalian Kompensantif
Pengendalian ini merupakan upaya penguatan pengendalian karena diabaikannya suatu aktivitas pengendalian.
2.2.5. Kas 2.2.5.1.Pengertian Kas
Kas merupakan salah satu unsur aktiva yang paling penting karena merupakan alat pertukan atau pembayaran yang siap dan bebas digunakan untuk membiayai kegiatan operasional organisasi. Kas terbagi menjadi dua yaitu kas besar dan kas kecil. Kas besar adalah kas yang dikeluarkan dengan nominal tertentu yang relatif besar, dan biasanya dengan menggunakan cek.
Menurut Dwi Martini (2012 : 180) kas adalah aset yang digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan. Kas merupakan aset yang paling likuid karena dapat digunakan untuk membayar kewajiban dan membiayai kegiatan organisasi. Adapun menurut Soemarso S.R (2010 : 296) kas adalah segala sesuatu yang dapat tersedia dengan segera dan dapat diterima sebagai alat pelunasan kewajiban pada nilai nominalnya.
Sedangkan menurut PSAK No.2 (IAI, 2013 : 22) kas terdiri dari saldo kas (cash on hand) dan rekening giro. Setara kas adaalah investasi yang sifatnya likuid berjangka pendek dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi resiko perubahan nilai yang signifikan.
Berdasarkan beberapa di atas dapat disimpulkan bahwa kas merupakan alat pembayaran yang likuid, mudah dipindahtangankan dan tidak dibuktikan kepemilikannya sehinga pengendalian kas sangat diperlukan melalui sistem pengendalian yang baik.
2.2.5.2. Pengendalian Internal Penerimaan Kas
Secara garis besar sistem akuntansi penerimaan kas adalah sebuah catatan yang dibuat dengan tujuan untuk melaksanakan kegiatan penerimaan uang yang telah siap dan bebas digunakan untuk kegiatan akan dijalankan oleh perusahaan atau organisasi (Mulyadi, 2016: 379).
Menurut Romney dan Steinbart (2015 : 441) sistem penerimaan kas adalah serangkaian proses baik manual maupun terkomputerisasi mulai dari pencatatan, penggolongan, peringkasan transaksi dan kejadian keuangan hingga pelaporan keuangan dalam rangka pertanggungjawaban penerimaan kas.
Sedangkan Sujarweni (2015 : 121) sistem akuntansi penerimaan kas adalah suatu prosedur catatan yang dibuat untuk melaksanakan kegiatan penerimaan uang yang berasal dari berbagai macam sumber, yaitu penjualan tunai, penjualan aktiva tetap, pinjaman bank, dan setoran modal baru. Terdapat dua sumber penerimaan kas perusahaan, yaitu penjualan tunai dan piutang atau pembayaran dari penjualan kredit.
Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pengendalian internal penerimaan kas adalah alat-alat yang digunakan untuk melakukan pengendalian internal.
2.2.5.2.1. Prosedur Penerimaan Kas
Prosedur adalah Tata cara kerja yaitu rangkaian tindakan, urutan-urutan langkah pekerjaan klerikal atau perbuatan yang harus dilakukan oleh seseorang dan merupakan biasanya melibatkan beberapa orang dalam satu bagian atau lebih, untuk menjamin perlakuan yang seragam terhadap transaksi-transaksi yang terjadi dapat mencapai tahap tertentu dalam hubungan mencapai tujuan.
Ardiyose (2013 : 734) menyatakan bahwa prosedur adalah suatu bagian sistem yang merupakan rangkaian yang menyangkut beberapa orang dalam satu atau beberapa bagian yang ditetapkan untuk menjamin agar suatu kegiatan atau transaksi dapat terjadi berulang kali dan dilaksanakan secara beragam.
Gereja HKBP Cilincing Jakarta SK No. 35/L08/VI/2017memiliki prosedur penerimaan kas, yaitu :
a. Pada saat ibadah, pelayan ibadah sudah menyiapkan beberapa kantong persembahan untuk jemaat.
b. Setelah ibadah, bendahara gereja menghitung uang dari semua kantong persembahan yang ada.
c. Setelah perhitungan selesai dilakukan oleh bendahara gereja, dilakukan pencatatan kedalam buku kas oleh bendahara gereja sendiri.
d. Pencatatan persembahan tersebut dimasukan kedalam akun yang berbeda sesuai dengan kantong persembahan yang tersedia dan tujuan dari kantong persembahan tersebut.
e. Setelah pencatatan dilakukan maka uang tersebut disetor ke bank atau disimpan ke brankas kantor gereja oleh bendahara gereja untuk petty cash.
2.2.5.2.2.Sumber Penerimaan Kas Gereja
Sebagai sebuah organisasi nirlaba yang tidak berorientasi pada laba atau keuntungan, menurut Tim Akuntansi Keuskupan Agung (2018 : 145) gereja memiliki beberapa sumber penerimaan kas yang utama, yaitu :
a. Persembahan jemaat pada setiap ibadah minggu
Pada setiap ibadah minggu dilaksanakan jemaat dengan sukarela memberikan persembahan kepada gereja.
b. Sumbangan dari para donatur
Donatur menyumbangkan sejumlah uang kepada gereja melalui rekening gereja atau memberikan secara langsung kepada pengurus gereja.
c. Perpuluhan yang diberikan para jemaat
Sebuah konsep gereja dimana jemaat memberikan 10% dari penghasilan mereka selama sebulan penuh dengan maksud mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kegiatan ini tidak diwajibkan, tergantung kesadaran diri dari masing – masing anggota jemaat.
Sedangkan menurut Tata Gereja HKBP Cilincing Jakarta (2014 : Pasal 104) sumber penerimaan kas yang pada HKBP Cilincing Jakarta adalah :
a. Persembahan Ibadah Minggu
b. Persembahan Bulanan
c. Persembahan Ucapan Syukur Jemaat
d. Persembahan Kebaktian Lunggu
e. Persembahan Kategorial seperti kelompok bapak, kelompok perempuan, kelompok remaja dll
f. Sumbangan atau hibah dari anggota jemaat, anggota masyarakat atau pemerintah
g. Usaha – usaha yang sah yang tidak bertentangan dengan Tata Gereja, Tata Tertib HKBP Cilincing maupun pemerintah.
2.2.5.3. PengendalianPengeluaran Kas
MenurutMulyadi (2016 : 464) didalam bukunya menjelaskan bahwa sistem akuntansi pengeluaran kas adalah sebuah sistem yang dirancang guna membiayai berbagai transaksi yang berkaitan dengan pengeluaran kas di dalam sebuah organisasi.
Sedangkan menurut Soemarso S.R (2010 : 318) pengeluaran kas adalah suatu transkasi yang menimbulkan berkurangnya saldo kas dan bank milik perusahaan yang diakibatkan adanya pembelian tunai, pembayaran utang maupun hasil transaksi lainnya yang menyebabkan berkurangnya kas.
Jadi dapat disimpulkan bahwa sistem akuntansi pengeluaran kas adalah sebuah sistem yang digunakan untuk mencatat seluruh transaksi pengeluaran kas, yang meliputi serangkaian proses kegiatan menerima, menyimpan, menyetor, membayar, menyerahkan dan mempertanggungjawabkan pengeluaran uang yang berada dalam pengelolaan suatu perusahaan.
Gereja HKBP Cilincing Jakarta SK No. 35/L08/VI/2017memiliki prosedur pengeluaran kas, yaitu :
1. Apabila ada keperluan yang harus dipenuhi oleh gereja, bendahara gereja selaku yang menyimpan uang kas akan mengeluarkan kas gereja untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
2. Jika untuk keperluan program atau kegiatan tiap bidang, maka anggota harus membuat proposal lalu dilaporkan pada ketua dewan.
3. Sebelum proposal diajukan dalam rapat majelis, Anggota yang membuat proposal harus menjelaskan isi proposal yang akan diajukan kepada ketua dewan.
4. Setelah itu ketua dewan mengajukannya kepada majelis untuk disetujui.
5. Setelah itu dirundingkan dalam rapat majelis dan telah disetuji maka bendahara akan mengeluarkan kas untuk membiayai program tersebut.
6. Bendahara mencatat pengeluaran yang akan di keluarkan pada bukti tanda bayar yang diserahkan kepada pemohon dan ditandatangani oleh pemohon.
7. Setelah itu tiap bidang membuat laporan pertanggungjawaban dan bukti-bukti pengeluaran kepada bendahara.
Proses pengawasan pengeluaran kas yaitu :
1. Permintaan pengeluaran kas harus disetujui dalam rapat majelis.
2. Permintaan pengeluaran kas ditujukan untuk membiayai pengeluaran diluar program anggaran
3. Bendahara gereja mengeluarkan kas dengan menggunakan bukti tanda bayar dan ditanda tangani pleh pemohon
4. Setelah itu, majelis mengevaluasi dan mengecek kembali bukti-bukti tanda bayar, kuintansi pengeluaran kas pada 1x seminggu
2.2.5.3.1.Jenis Pengeluaran Kas Gereja
Menurut Tim Akuntansi Keuskupan Agung (2018 : 149), pengeluaran dana yang dikeluarkan gereja antara lain adalah :
1. Beban Tidak Terikat – Program Rutin
a. Definisi
Beban tidak terikat – program rutin adalah pengurangan/penggunaan aktiva bersih yang tidak terikat untuk membiayai semua program kegiatan akan dilaksanakan oleh gereja.
b. Penjelasan
Beban Tidak Terikat – Program Rutin terdiri dari :
1) Untuk bidang Liturgi dan Perwartaan, yaitu bidang yang secara khusus menangani program kegiatan liturgi dan perwartaan, yang terdiri dari : Biaya Liturgi, Beban Tim Kerja Sintua atau Panatua.
2) Untuk Bidang Peribadatan, yaitu bidang yang secara khusus menangani program kegiatan peribadatan, yang terdiri dari : Beban Tim Kerja SongLeader, Beban Tim Kerja Pemusik, Beban Tim Kerja Multimedia, Beban Tim Kerja Sound System dan Peribadahan Lain-lain.
3) Untuk bidang Kategorial, yaitu bidang yang secara khusus menangani program kegiatan kategorial, yang terdiri dari : Beban Tim Kerja Pendampingan Sekolah Minggu, Beban pendampingan Iman Remaja/Dewasa, Beban Tim Kerja Pendampingan Iman Bapak, Beban Tim Kerja Iman Usia Lanjut dan lain-lain.
2. Beban Tidak Terikat - Kegiatan Rutin
a. Definisi
Beban tidak terikat – kegiatan rutin adalah pengurangan/penggunaan aktiva bersih tidak terikat yang dilakukan dalam rangka membiayai kegiatan rutin gereja. b. Penjelasan
Beban tidak terikat – program rutin diklasifikasikan berdasarkan tujuan pengeluarannya yang terdiri dari :
1) Beban Karyawan, yaitu pengeluaran yang dilakukan untuk membiayai hal yang terkait dengan karyawan gereja, yang terdiri dari : Pengeluaran untuk Gaji, Tunjangan dan Upah, Jaminan Kesehatan dan Pensiun, dan Beban Karyawan
Lain – lain.
2) Beban Keperluan Gereja, yaitu pengeluaran yang dilakukan untuk membiayai berbagai keperluan gereja khususnya untuk keperluan penyelenggaraan ibadah, yang terdiri dari : Pengeluaran Anggur, Roti dan Lilin, Pengeluaran Penyelenggaraan Ibadah Khusus, dan Beban Keperluan Gereja lain – lain.
3) Beban Keperluan Rumah Tangga yaitu pengeluaran yang dilakukan untuk membiayai keperluan rumah tangga, yang terdiri dari : Pengeluaran untuk Perlengkapan Kebersihan, Keperluan Dapur, Listrik, WIFI, Air, Tranportasi, Iuran Kemasyarakatan dan Beban Keperluan Rumah Tangga Lain-lain.
4) Beban Keamanan, yaitu pengeluaran yang dilakukan untuk membiayai keamanan disekitar lingkungan gereja.
5) Beban Perawatan dan Perbaikan, yaitu pengeluaran yang dilakukan untuk membiayai perawatan dan perbaikan aktiva tetap gereja, yang terdiri dari : Perawatan dan Perbaikan Bangunan, Perawatan Kendaraan dan Perawatan
Inventaris.
6) Beban Lain-lain, yaitu terdiri pengeluaran untuk biaya yang tidak bisa diklasifikasikan dalam pos biaya diatas, yang terdiri dari : Rugi Penjualan Aktiva Tetap, Administrasi Bank, Pajak Bunga, Piutang Tak Tertagih, Pajak Bunga dan Lain-lain.
7) Beban Umum Pengurus Gereja, yaitu terdiri dari pengeluaran yang berkaitan dengan kegiatan pengurus gereja seperti pengeluaran untuk rapat pengurus gereja.
2.3. Kerangka Konseptual Penelitian
Didalam sebuah organisasi, informasi merupakan sebuah hal yang sangat penting, Karena dengan informasi tersebut organisasi akan dapat membuat keputusan yang tepat sehingga organisasi dapat mencapai tujuannya. Sehingga dibutuhkan sebuah sistem informasi dalam setiap organisasi.
Oleh karena itu setiap organisasi memerlukan sebuah sistem informasi akuntansi yang dimana sistem tersebut berfungsi untuk mengolah data – data setiap transaksi keuangan yang terjadi di organisasi menjadi sebuah informasi yang berguna untuk pihak manajemen membuat sebuah perencanaan untuk mencapai tujuan dari organisasi dan untuk menjaga aset – aset organisasi.
Organisasi nirlaba keagamaan seperti gereja juga tidak terlepas dari kebutuhan akan informasi, sehingga dalam menjalankan aktivitasnya, informasi tersebut dapat membantu gereja dalam membuat keputusan dan menginformasikan pengelolaan keuangan gereja kepada semua anggota jemaat. Dengan demikian keterbukaan laporan keuangan gereja, terutama penerimaan dan pengeluaran kas merupakan hal yang sangat penting agar dapat meningkatkan kepercayaan jemaat dan donatur kepada pengurus gereja.
Untuk mendapatkan sebuah informasi yang baik tidak hanya diperlukan sebuah sistem informasi akuntansi, melainkan dibutuhkan juga pengendalian internal. Suatu organisasi akan dapat berjalan dengan baik apabila memiliki pengendalian internal yang baik pula. Pengendalian internal adalah sekumpulan prosedur dan pedoman pelaksanaan operasional organisasi yang didalam pelaksanaan tugasnya untuk mengawasi dan mengarahkan aktivitas perusahaan dengan tujuan mencegah dan menghindari timbulnya penyelewengan.
Duncan dan Morris (2014) menyatakan bahwa baik atau tidaknya pengendalian internal pada sebuah gereja memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat penyimpangan yang ada pada gereja tersebut. Oleh karena itu penerapan pengendalian internal yang baik pada sistem informasi akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas disebuah gereja sangatlah diperlukan untuk menghindari kecurangan dan kejahatan yang dapat dilakukan oleh oknum – oknum yang tidak bertanggungjawab.
Berpijak pada pemikiran diatas, maka penulis akan melakukan penelitian pada
HBKP Cilincing Jakarta untuk mencari tahu bagaimana penerapan pengendalian internal pada sistem informasi akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas yang sudah dilaksanakan.
Penulis menggambarkan kerangka berpikir sebagai berikut :
Nilai Ajar
Gambar 2.3
Skema
Kerangka Konseptual Penelitian